TERKINI
Veronica Makalew Borong Empat Prestasi di Kejuaraan Catur ASEAN+ 2026: Kado Istimewa di HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia  ⸻  S2 Pro and Lighting Tomohon Buktikan Kualitas Profesional sepanjang HUT ke-81 RI  ⸻  TIFF 2026: Kolaborasi dan Transformasi  ⸻  Alasan Mutu Pendidikan, Sekolah Swasta Jadi Incaran Ketimbang Sekolah Negeri   ⸻   Veronica Makalew Borong Empat Prestasi di Kejuaraan Catur ASEAN+ 2026: Kado Istimewa di HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia  ⸻  S2 Pro and Lighting Tomohon Buktikan Kualitas Profesional sepanjang HUT ke-81 RI  ⸻  TIFF 2026: Kolaborasi dan Transformasi  ⸻  Alasan Mutu Pendidikan, Sekolah Swasta Jadi Incaran Ketimbang Sekolah Negeri

Edwin Roring Pimpin Upacara Hari Otda ke-30 di Tomohon, Serukan Sinkronisasi Pusat-Daerah dan Efisiensi Anggaran

| | 17 Pembaca | ~5 menit baca

Tomo­hon, medi­a­lis.id/ – Sek­re­ta­ris Daerah Kota Tomo­hon, Edwin Roring, S.E., M.E., ber­tin­dak seba­gai inspek­tur upa­cara peri­nga­tan Hari Oto­nomi Daerah ke-30 Tahun 2026 di Lapa­ngan Kantor Wali Kota Tomo­hon, Senin (27/4/2026).

Mes­ki­pun Hari Oto­nomi Daerah jatuh pada tang­gal 25 April, upa­cara dige­lar hari ini seba­gai bentuk peng­hor­ma­tan ter­ha­dap momen­tum desen­tra­li­sasi yang telah ber­lang­sung tiga dekade.

Upa­cara ber­lang­sung khid­mat ini diha­diri oleh per­wa­ki­lan Polres Tomo­hon, per­wa­ki­lan Kejak­saan Negeri Tomo­hon, per­wa­ki­lan Kodim 1302 Mina­hasa, selu­ruh jaja­ran Peme­rin­tah Kota Tomo­hon, serta Apa­ra­tur Sipil Negara dan pega­wai BUMD se-Kota Tomo­hon.

Dalam ama­nat­nya, Sekda Edwin Roring mem­ba­ca­kan sam­bu­tan ter­tu­lis Men­teri Dalam Negeri Repub­lik Indo­ne­sia yang mengu­sung tema “Dengan Oto­nomi Daerah Kita Wujud­kan Asta Cita”.

Tema ini mengan­dung makna keman­di­rian dan tang­gung jawab daerah dalam menge­lola potensi lokal secara ber­sama-sama, dengan sinergi kuat antara peme­rin­tah pusat dan daerah.

Men­dagri dalam sam­bu­tan­nya menyam­pai­kan bahwa tanpa koor­di­nasi yang baik, tujuan besar Asta Cita tidak akan ter­ca­pai secara opti­mal. Oleh karena itu, sin­kro­ni­sasi antara pusat dan daerah men­jadi kunci utama keber­ha­si­lan pem­ba­ngu­nan nasi­o­nal. Lang­kah-lang­kah stra­te­gis yang dimak­sud meli­puti:

  1. Integ­rasi Peren­ca­naan dan Pengang­ga­ran Nasi­o­nal dan Daerah. Selama tiga dekade oto­nomi daerah, salah satu tan­ta­ngan utama adalah belum opti­mal­nya integ­rasi antara peren­ca­naan pusat dan daerah, yang sering menim­bul­kan tum­pang tindih kegi­a­tan, dup­li­kasi ang­ga­ran, serta ren­dah­nya efek­ti­vi­tas pem­ba­ngu­nan.
  2. Refor­masi Birok­rasi Ber­ba­sis Out­co­mes dengan Digi­ta­li­sasi Terin­teg­rasi. Birok­rasi selama ini cen­de­rung meni­tik­be­rat­kan pada aspek admi­nis­tra­tif dan ori­en­tasi penye­ra­pan ang­ga­ran, bukan pada pen­ca­paian hasil nyata yang ber­dam­pak pada masya­ra­kat. Ke depan, tata kelola peme­rin­ta­han yang modern, efek­tif, dan res­pon­sif perlu diha­dir­kan mela­lui peman­fa­a­tan tek­no­logi terin­teg­rasi serta ino­vasi daerah.
  3. Pengu­a­tan Keman­di­rian Fiskal Daerah. Banyak daerah masih meng­ha­dapi tan­ta­ngan berupa ting­gi­nya keter­gan­tu­ngan ter­ha­dap dana tran­sfer dari pusat, sehingga ruang fiskal daerah men­jadi ter­ba­tas dan kurang flek­si­bel dalam meres­pons kebu­tu­han serta pri­o­ri­tas pem­ba­ngu­nan yang ber­si­fat lokal.
  4. Kola­bo­rasi Antar Daerah. Dalam prak­tik­nya, sering dijum­pai bahwa daerah cen­de­rung ber­ja­lan sen­diri-sen­diri tanpa mem­per­ha­ti­kan keter­kai­tan dengan wila­yah lain, pada­hal per­so­a­lan stra­te­gis seperti tran­spor­tasi, penge­lo­laan ling­ku­ngan, pengen­da­lian banjir, penge­lo­laan sampah, hingga pengem­ba­ngan eko­nomi meru­pa­kan isu lintas wila­yah yang tidak dapat dise­le­sai­kan secara par­sial.
  5. Fokus pada Laya­nan Dasar dan Pengen­ta­san Ketim­pa­ngan. Masih ter­da­pat kesen­ja­ngan yang nyata dalam akses dan kua­li­tas laya­nan dasar seperti pen­di­di­kan, kese­ha­tan, air bersih, sani­tasi, serta per­lin­du­ngan sosial, teru­tama antara daerah maju dan daerah ter­ting­gal, ter­luar, dan ter­pen­cil.
  6. Pengu­a­tan Sta­bi­li­tas dan Keta­ha­nan Daerah. Banyak daerah masih rentan ter­ha­dap ber­ba­gai krisis, baik krisis eko­nomi, keta­ha­nan pangan, maupun ben­cana alam yang sema­kin mening­kat akibat peru­ba­han iklim.

Selain keenam lang­kah stra­te­gis ter­se­but, Men­dagri juga menyo­roti dela­pan isu pri­o­ri­tas nasi­o­nal yang harus men­jadi per­ha­tian utama peme­rin­tah daerah:

  1. Swa­sem­bada pangan mela­lui pengu­a­tan regu­lasi, duku­ngan ang­ga­ran dan tek­no­logi, pengu­a­tan SDM per­ta­nian, akses dis­tri­busi pema­sa­ran, serta opti­ma­li­sasi lahan per­ta­nian.
  2. Swa­sem­bada energi mela­lui opti­ma­li­sasi sumber daya domes­tik, diver­si­fi­kasi energi, efi­si­ensi, dan duku­ngan kebi­ja­kan untuk mengu­ra­ngi impor energi serta mem­per­kuat keta­ha­nan nasi­o­nal.
  3. Penge­lo­laan sumber daya air mela­lui pening­ka­tan infras­truk­tur, pengem­ba­ngan tek­no­logi ino­va­tif, pene­ga­kan hukum, serta penyi­a­pan perang­kat kebi­ja­kan yang sig­ni­fi­kan.
  4. Peme­rin­ta­han yang tran­spa­ran, akun­ta­bel, bebas korupsi, dan mela­yani masya­ra­kat dengan berin­teg­ri­tas.
  5. Pengem­ba­ngan kewi­rau­sa­haan untuk mem­buka lapa­ngan kerja mela­lui kemu­da­han memu­lai bisnis dan akses per­mo­da­lan, pengem­ba­ngan eko­nomi desa dan sektor infor­mal, per­lu­a­san inves­tasi dan indus­tri padat karya, pela­ti­han dan pening­ka­tan kete­ram­pi­lan, pengem­ba­ngan inku­ba­tor bisnis, duku­ngan UMKM dan kope­rasi, serta kola­bo­rasi peme­rin­tah-swasta-aka­de­misi.
  6. Pening­ka­tan akses dan kua­li­tas pen­di­di­kan mela­lui peme­ra­taan akses (infras­truk­tur, bea­siswa, digi­ta­li­sasi), pening­ka­tan kua­li­tas (guru, kuri­ku­lum, fasi­li­tas), serta penga­wa­san dan keter­li­ba­tan publik, ter­ma­suk memas­ti­kan peserta didik ter­cu­kupi asupan gizi mela­lui prog­ram makan ber­gizi gratis.
  7. Pela­ya­nan kese­ha­tan yang merata, ber­ku­a­li­tas, dan ter­jang­kau mela­lui pengu­a­tan sistem ruju­kan dan fasi­li­tas kese­ha­tan, pening­ka­tan kua­li­tas SDM kese­ha­tan, digi­ta­li­sasi laya­nan kese­ha­tan, pengu­a­tan jami­nan kese­ha­tan nasi­o­nal, pen­ce­ga­han dan pro­mosi kese­ha­tan, keter­se­di­aan obat dan alat kese­ha­tan, serta pena­nga­nan stun­ting dan gizi buruk.
  8. Refor­masi birok­rasi dan pene­ga­kan hukum mela­lui penye­der­ha­naan struk­tur dan pro­se­dur, pening­ka­tan kua­li­tas SDM apa­ra­tur, pengu­a­tan akun­ta­bi­li­tas via e-gover­nment untuk tran­spa­ransi penge­lo­laan ang­ga­ran, pengu­a­tan sistem penga­wa­san inter­nal, serta pengem­ba­ngan kanal penga­duan masya­ra­kat yang terin­teg­rasi.

Dalam kesem­pa­tan itu, Sekda Edwin Roring juga mene­gas­kan pesan Men­dagri bahwa selu­ruh pelak­sa­naan kegi­a­tan peme­rin­ta­han, ter­ma­suk peri­nga­tan Hari Oto­nomi Daerah, harus tetap mem­per­ha­ti­kan prin­sip efi­si­ensi dan peng­he­ma­tan ang­ga­ran sesuai arahan Pre­si­den. Peme­rin­tah daerah diha­rap­kan untuk:

· Menye­leng­ga­ra­kan kegi­a­tan secara seder­hana, tidak ber­le­bi­han, dan tidak ber­si­fat sere­mo­nial semata.
· Mengop­ti­mal­kan peng­gu­naan sumber daya yang ada dengan tetap menge­de­pan­kan efek­ti­vi­tas dan man­faat.
· Memas­ti­kan setiap peng­gu­naan ang­ga­ran benar-benar mem­be­ri­kan nilai tambah bagi masya­ra­kat.
· Meng­hin­dari pem­bo­ro­san ang­ga­ran yang tidak memi­liki dampak lang­sung ter­ha­dap pela­ya­nan publik dan kese­jah­te­raan masya­ra­kat.

Oto­nomi daerah telah mem­be­ri­kan ruang bagi daerah untuk beri­no­vasi dan mengem­bang­kan potensi lokal, namun pelak­sa­na­an­nya harus tetap berada dalam kerangka Negara Kesa­tuan Repub­lik Indo­ne­sia. Keseim­ba­ngan antara keman­di­rian daerah dan kepen­ti­ngan nasi­o­nal harus senan­ti­asa dijaga.

Kola­bo­rasi yang efek­tif antara peme­rin­tah pusat dan daerah dalam melak­sa­na­kan arah kebi­ja­kan nasi­o­nal memer­lu­kan komit­men serta pema­ha­man yang sama menge­nai pri­o­ri­tas pem­ba­ngu­nan yang bero­ri­en­tasi pada kese­jah­te­raan masya­ra­kat. Pen­ting bagi peme­rin­tah daerah untuk tidak hanya men­jadi pelak­sana, tetapi juga mitra aktif dalam meran­cang kebi­ja­kan yang rele­van dengan kon­disi dan potensi lokal. Dengan demi­kian, Indo­ne­sia dapat ber­kem­bang secara adil dan merata.

Upa­cara ditu­tup dengan doa ber­sama, mengi­ngat­kan bahwa sema­ngat oto­nomi daerah harus terus men­jadi pen­do­rong bagi semua pihak untuk mewu­jud­kan Asta Cita dan kema­juan bangsa Indo­ne­sia. Sekda Edwin Roring menga­jak selu­ruh ASN dan pega­wai BUMD di Kota Tomo­hon untuk terus bekerja keras dan ber­ko­la­bo­rasi demi kema­juan daerah.

Turut hadir dalam upa­cara ini per­wa­ki­lan For­ko­pimda Tomo­hon, Kepala Perang­kat Daerah, serta selu­ruh pega­wai di ling­ku­ngan Peme­rin­tah Kota Tomo­hon. Peri­nga­tan Hari Oto­nomi Daerah ke-30 ini diha­rap­kan men­jadi momen­tum untuk mem­per­kuat sinergi dan mem­per­ce­pat pem­ba­ngu­nan yang ber­pi­hak pada rakyat. (***/jud)

Bagikan artikel ini:

Video

admin
Ditulis oleh
admin

145 artikel diterbitkan

Weekly Story

Audio Story

Tomohon Raih Kota Terbaik 1 Penanggulangan Kemiskinan dan Stunting di Sulawesi
00:00
Berita Utama

Tomohon Raih Kota Terbaik 1 Penanggulangan Kemiskinan dan Stunting di Sulawesi

30 Mei 2026
13 Kali Berturut-turut, Kota Tomohon Kembali Raih Opini WTP dari BPK atas LKPD 2025
00:00
Tomohon

13 Kali Berturut-turut, Kota Tomohon Kembali Raih Opini WTP dari BPK atas LKPD 2025

29 Mei 2026
Lihat semua audio story

Tulis Komentar

Berita Terkini

Semua Berita →
Audio Story

00:00
00:00
Kecepatan