Amurang, medialis.id
Air laut terlihat sedang surut, tapi bekas puing jembatan dan beberapa bangunan bertingkat yang roboh pasca amblasnya pesisir Amurang, tak kunjung nampak.
Masyarakat nelayan di sekitar telah coba mengukur kedalaman dasar di titik lokasi amblas, menggunakan tali kail. Hasilnya beragam. Tapi rata-rata ukuran kedalaman dikatakan sedalam 15 depa orang dewasa atau sekitar 22 Meter, yang sebelum amblas hanya setinggi lutut orang dewasa.

Anehnya, kata nelayan, meski air terlihat jernih, namun sisa-sisa material yang amblas itu tidak terlihat lagi. Para nelayan memperkirakan, sisa bangunan-bangunan itu, telah hilang tertimbun pasir.
Abrasi Pantai Amurang
Fenomena alam yang terjadi pada Rabu siang 15 Juni 2022 lalu, memang masih menyisahkan misteri. Pasalnya, penyebab terjadinya amblas masih belum dapat dipastikan. Meski begitu, beberapa ahli telah mengemukakan alasan penyebab amblasnya pesisir itu.

Para ahli yang diwawancarai oleh beberapa media mainstream menyebut, peristiwa itu terjadi karena abrasi laut akibat gelombang pasang. Padahal saat itu, suasana laut sedang tenang-tenang saja, tidak berombak. Sebagian ahli juga menyebut, akibat likuefaksi.
Sebuah Badan Geologi, Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral, bidang Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PAG) menjelaskan, keruntuhan jembatan itu secara garis besar dimulai dari proses penjenuhan air yang berlangsung secara berkesinambungan akibat curah hujan yang tinggi, –singkat–, sehingga terjadi kenaikan muka air tanah, yang mempengaruhi kekuatan tanah di pesisir tersebut.
Kendati saat peristiwa terjadi, cuaca sedang cerah, bahkan memasuki musim kemarau ini, beberapa hari sebelum terjadi peristiwa, intensitas hujan justru sangat berkurang. Sehingga tidak mungkin banyak debit air yang mempengaruhi tanah.
Akan tetapi, Badan Geologi PAG itu juga menyimpulkan bahwa peristiwa runtuhnya jembatan di Amurang itu akibat fenomea gerakan tanah yang berhubungan dengan kondisi litologi yang kehilangan kekuatan alaminya yang diperkirakan karena proses penjenuhan air serta abrasi laut sehingga mengganggu kestabilan tanah hingga terjadinya keruntuhan.

Badan Geologi PAG itu juga membantah, bahwa kejadian ini bukan bagian dari likuefaksi seperti isu yang telah beredar, karena tidak ada pemicu yang berasal dari getaran gempa bumi yang terjadi sebelumnya.
Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Republik Indonesia (RI) yang datang mengunjungi langsung lokasi tersebut pun masih meragukan peristiwa itu akibat abrasi laut ataupun likuefaksi. Ia mengatakan perlu adanya kajian khusus untuk menyimpulkan lebih pasti penyebab amblasnya pesisir pantai Amurang itu.
Jejak Abrasi di Pesisir Amurang
Peristiwa amblas pesisir di Amurang, sebenarnya bukan yang pertama terjadi. Beberapa tahun silam, hal serupa itu juga sering terjadi. Bahkan pengakuan masyarakat pun mengatakan bahwa lokasi tersebut memang dikenal dengan lokasi patahan tanah. Namun patahan-patahan tempo itu, dikatakan hanya berkapasitas rendah.
Tak hanya di situ, di beberapa titik ujung bibir teluk Amurang pun sering terjadi patahan-patahan pesisir seperti itu, meski hanya dalam radius-radius kecil.
Teranyar, pada awal tahun 2000-an, di lokasi yang berbeda, tepatnya di antara Kelurahan Ranomea dan Kelurahan Bitung, sekitar 1 Kilo Meter ke timur dari lokasi amblasnya saat ini, juga pernah terjadi peristiwa serupa. Kala itu, belum banyak bangunan. Belum ada infrastruktur yang di bangun. Sehingga hanya hamparan pasir yang terdampak. Meski begitu, suasana kala itu cukup mengkhawatirkan masyarakat setempat.
Tidak ada yang tau apa penyebab amblasnya pesisir-pesisir kala itu. Tidak ada tanda-tanda alam yang mengiring persitiwa tersebut. Tidak ada hujan, tidak ada gelombang, pun tidak ada gempa bumi. Namun masyarakat sering berspekulasi, bahwa peristiwa tersebut berkaitan dengan aktivitas gunung berapi yang berada sekitar 30KM dari bibir pantai itu.
Rupanya mungkin, masyarakat kemudian sering mengamati, ketika terjadinya amblas pasir seperti itu, selang beberapa waktu gunung tersebut tak lama akan menunjukan aktivitasnya. Hal itu sehingga muncul lah isu, bahwa patahan-patahan pesisir itu dihisap oleh gunung berapi tersebut.
Tentunya, hal itu dibantahkan oleh beberapa ahli, sebab dianggap tidak masuk akal.
Reaksi Alam
Laut memang penuh dengan misteri. Namun laut juga memiliki peran penting bagi kehidupan manusia. Sejarah mencatat, jalur peradaban manusia di berbagai sudut benua, sebagian besar berawal dari perjalanan laut
Jalur-jalur laut yang menghubungkan antar kehidupan manusia di berbagai tempat, menjadi faktor munculnya kota-kota tepi pantai.
Kota-kota pelabuhan, dibangun. Kota-kota niaga pun berdiri. Pemukiman padat penduduk menjadi unsur penggerak perekonomian dalam suatu peradabannya.
Tak hanya itu. Laut memang selalu memiliki daya pikat bagi kehidupan manusia. Selain karena sumber daya kehidupan yang disediakan oleh laut, tetapi juga karena pesona alamnya.
Akan tetapi, permukiman di tepi laut tidaklah selalu aman. Daerah pesisir pantai memang menyimpan pesona yang indah. Tapi pun, dibalik keindahan alamnya, daerah pesisir tak lepas dari berbagai bencana alam. Mulai dari banjir rob, gelombang pasang, angin badai, kenaikan air laut, hingga tsunami.
Jika terjadi, reaksi-reaksi alam tersebut tak hanya memporak-porandakan pesisir pantai, keganasannya bahkan mampu menenggelamkan kota hingga sebuah pulau.
Salah satu yang sangat melegenda adalah Kota Atlantis. Kota yang disebutkan tenggelam dan hilang secara misterius.
Kisah tentang Atlantis pertama kali dipopulerkan oleh seorang filsuf ternama dari Yunani yaitu Plato, yang karya-karyanya kerap dijadikan rujukan dalam berbagai ilmu pengetahuan hingga kini. Plato mengisahkan, pada suatu masa ada sebuah negeri yang sangat makmur dan indah bernama Atlantis.
Dalam catatannya, secara utopis ia menceritakan bahwa Kota Atlantis itu memiliki peradaban yang sangat maju dan modern dibidang teknologi dan sumber daya, pada masa itu.
Kota Altantis yang diceritakan Plato, muncul dari sebuah dialog dalam buku Timaeus dan Critias, yang ditulis sekitar 360 SM.
Ia mengisahkan, pada suatu masa ada sebuah negeri yang sangat makmur dan indah bernama Atlantis. Namun satu peristiwa terjadi. Tidak sampai sehari semalam, daratan Atlantis semuanya tenggelam ke dasar laut.
Berbagai catatan mengungkapkan, bahwa para penduduk yang menghuni Atlantis memiliki sifat yang congkak dan tamak. Hal ini membuat para dewa murka dan kemudian terjadilah banjir dan gempa hebat yang menenggelamkan Atlantis beserta seluruh penghuninya.
Meski terdengar hanya sebuah mitologi, tapi cerita Plato soal Atlantis diduga kuat bukan karangan semata. Karena Socrates, guru Plato, juga mengatakan kalau Atlantis benar-benar ada 11.000 tahun yang lalu.
Letak Atlantis sendiri digambarkan oleh Plato sebagai pulau yang memiliki luas lebih dari Libya dan Asia yang disatukan dan terletak di depan mulut “pilar-pilar Herkules”.
Karena Plato tidak menggambarkan secara gamblang di mana letak Atlantis, para ilmuwan hingga kini berseteru mengenai apa penafsiran yang paling tepat untuk menemukan Atlantis.
Hampir sepanjang generasi, Kota Atlantis selalu menarik perhatian para ilmuan. Dilansir dari Live Science, gagasan ini telah memikat para pemimpi, okultis, dan banyak lainnya selama beberapa generasi.
Ribuan buku, majalah, dan situs web dikhususkan untuk Atlantis, dan itu tetap menjadi topik populer. Orang-orang bahkan telah kehilangan kekayaan, dan dalam beberapa kasus, nyawa mereka, demi mencari Atlantis.
Para peneliti dan ilmuan berlombah mencari keberadaan Kota yang hilang itu. Ratusan buku dan ribuan jurnal telah diterbitkan membahas tabir misteri Atlantis itu. Beberapa titik di penjuru bumi pun dijadikan pembanding gambaran Atlantis oleh para peneliti.
Bahkan salah satu yang populer adalah seorang ilmuwan asal Brasil, Arysio Nunes dos Santos.
Dalam bukunya ‘Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization’, ia membandingkan beberapa negara dengan ciri-ciri Benua Atlantis, mulai dari luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi hingga cara bercocok tanam. Tak tanggung-tanggung, penelitiannya untuk buku tersebut menghabiskan waktu 30 tahun. Santos akhirnya menyimpulkan jika Indonesia adalah Benua Atlantis.
Akan tetapi, banyak peneliti yang belum setuju akan hal ini. Sebab belum ada bukti peradaban apapun ditemukan di dasar lautan.
Meski begitu, Menurut Turn Back Hoax yang dilansir dari detikinet mengatakan bahwa Atlantis lebih mengarah pada karangan dari Plato sebagai bahan pembelajaran.
“Atlantis sebenarnya adalah kota imajiner, tidak nyata. Yang dikarang oleh Plato, sebagai bahan diskusi intelektual dengan Socrates. Ini dinyatakan dengan jelas di buku yang membahas Atlantis tersebut, Timaeus, bahwa Atlantis adalah kota imajinasi. Tidak nyata dan tidak ada,” tulis Turn Back Hoax.
Jika memang Kisah Kota Atlantis hanya sebuah mistos belaka, lain hal dengan beberapa kota berikut ini yang ditemukan di dasar laut, sehingga dikatakan sebagai Atlantis versi nyata. Berikut ini 5 Kota yang ditemukan di dasar laut. Dirangkum dari berbagai sumber.
1. Port Royal, Jamaika
Dilansir dari situs National Geographic, Kota yang dijuluki sebagai surga bajak laut Karibia ini tenggelam pada 7 Juni 1692. Kota ini dikenal sebagai “kota paling jahat di Bumi”. Menurut BBC, gempa bumi dahsyat dan tsunami yang mengikutinya, menyeret dua pertiga kota tersebut ke bawah gelombang air.
Guncangan dan gelombang air yang kuat itu, menyapu 2.000 atau lebih bangunan bata. Tergeser dan mengalir ke laut. Menurut UNESCO, dari perkiraan 6.500 penduduk kota pada saat itu, 2.000 diperkirakan tewas dalam gempa bumi dan tsunami. 3.000 lainnya meninggal karena cedera dan penyakit setelahnya.
2. Rungholt, Jerman
Permukiman ini tenggelam pada tahun 6300 Sebelum Masehi. Desa Neolitik ini terletak 26 hingga 39 kaki atau 8 hingga 12 meter di bawah Laut Mediterania, tersembunyi selama lebih dari 8.000 tahun sampai arkeolog laut Ehud Galili menemukannya.
Galili menemukan desa itu saat mensurvei area bawah laut tersebut untuk mencari bangkai kapal pada tahun 1984, seperti dikutip dari New Scientist. Sekarang desa kuno tersebut dianggap sebagai salah satu permukiman terendam tertua yang pernah ditemukan.
3. Neapolis
Diserang tsunami pada Juli 365, Neapolis merupakan kota penting di Tunisia pada masa Romawi kuno. Bencana alam tersebut menghilangkan kota ini selama 1.700 tahun. Upaya keras arkeolog menemukan hasil pada 2017 setelah mencarinya selama tujuh tahun
4. Thonis-Herecleion
Sebagai kota perdagangan dan spiritual Thonis-Heracleion merupakan kota yang terkenal di Yunani, Kota ini perlahan-lahan tenggelam karena likuefaksi atau terkena kenaikan air laut dan berakhir dilupakan sekitar 800 tahun setelah masehi.
5. Ontario
Ontario adalah desa tua di Kanada yang diperkirakan sudah hadir sejak abad 18. Menariknya desa ini tenggelam kurang lebih di abad 20. Tidak disebutkan apa penyebab desa ini tenggelam. Tapi dikatakan, terjadi akibat sebuah musibah.
**
Tak hanya laut. Sebenarnya, bencana alam bisa terjadi dimana saja. Di darat, di laut, di udara, bahkan di dalam tanah sekalipun. Bencana bisa terjadi kapan saja dan kepada siapa saja. Jika sudah waktunya, siapapun tidak bisa menolaknya.
Bencana bisa saja menimpah pada siapapun. dia tidak memandang, pun tidak memilih. Jika sudah waktunya, siapapun tidak bisa menolaknya.
Bencana tidak memandang kamu siapa, kamu apa. Tidak memandang jabatanmu, derajatmu. Tidak menilai anda baik, anda buruk. Anda bebal atau anda saleh. Anda lebih atau anda kurang.
Bencana tidak memilih siapa Tuhanmu, Tuhan mana yang kau bela, surga mana yang kau perjuangkan. Jika dihadapkan, kita tak bisa menolaknya.
Berbagai bencana telah dilalui oleh manusia dari masa ke masa. Manusia yang rentan oleh gejala alam, terus mengeksplor diri lewat pengalaman dan segala peristiwa yang dialaminya, sehingga memunculkan ilmu-ilmu pengetahuan. Lalu, pengetahuan itu terus berkembang lewat pengalaman-pengalaman, sehingga eksistensi Manusia tetap ada hingga saat ini.
Sudah di pertengahan tahun, pelbagai bencana yang kita saksikan di separuh tahun ini kiranya menjadi refleksi diri untuk bertanya pada diri kita; Giliran kita, KAPAN..!??
(Ranomea 21 Juni 2022).